Di tahun 2012, perfilman Indonesia diramaikan dengan beberapa film yang mengangkat kecintaan terhadap Indonesia, di antaranya Tanah Surga…Katanya; Atambua 39 Derajat Celcius; hingga Soegija. Kini, di awal tahun 2013, sebuah film bertema nasionalisme akan kembali meramaikan bioskop-bioskop lokal dengan judul Hasduk Berpola. Film yang telah menyelesaikan masa syutingnya pada Juli hingga Agustus 2012 di daerah Bojonegoro dan Surabaya ini disutradarai oleh Harris Nizam yang telah sukses membawa Surat Kecil untuk Tuhan menjadi film terlaris di tahun 2011. Pemeran utamanya sendiri adalah Bangkit Prasetyo yang berhasil menyisihkan ratusan anak yang mengikuti casting di dua kota di atas.
Tidak hanya itu, film ini juga bisa dikatakan cukup spesial dengan hadirnya kembali Idris Sardi setelah 38 tahun menghilang dari dunia perfilman. Karakternya sendiri dalam film ini memang sesuai dengan sosok maestro biola, di mana ia berperan sebagai Masnun, veteran perang yang berusia 74 tahun dan gemar bermain alat musik gesek ini.
Dikisahkan di jaman modern ini seorang veteran pejuang ’45 bernama Masnun. Perjuangannya bertaruh nyawa yang ia lakukan demi kemerdekaan bangsa dan negara ternyata tidak ada harganya. Di Surabaya, yang disebut-sebut sebagai kota pahlawan, Masnun malah hidup terlunta-lunta. Tidak kuat dengan kondisi tersebut, Masnun dan Rahayu, putrinya yang memiliki dua anak bernama Budi dan Bening, akhirnya memutuskan kembali ke kota asal mereka, yaitu Bojonegoro dengan harapan kehidupan mereka akan membaik. Namun, kehidupan pria renta yang terkenal sebagai pahlawan peristiwa penyobekan bendera di Surabaya, ini justru semakin terpuruk.
Di satu sisi, Budi yang merupakan cucu Masnun memiliki rival bernama Kemal. Karena Kemal aktif di pramuka, Budi pun memutuskan untuk mengalahkan Kemal dalam kegiatan tersebut. Namun, dikarenakan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, anak 12 tahun ini tidak dapat membeli semua perlengkapan pramukanya. Untuk itu, Budi berusaha berjuang dengan berbagai cara untuk memenuhi kewajibannya. Hal ini tentu saja membuat iba Bening, adik Budi, yang berumur 10 tahun. Iapun memutuskan untuk mengorbankan barang kesayangannya demi dibuat hasduk untuk sang kakak.

