Lahir dalam keluarga besar, kehadiran anak selalu menjadi topik yang menarik dan menambah hangat keriaan keluarga. Tapi, anak bisa menciptakan ‘tragedi’, apabila tidak kunjung hadir melengkapi dan menjadi perekat kasih rumah tangga. Bukankah ‘anak adalah titipan Tuhan’, dan jodoh, kelahiran, juga maut adalah rahasia Allah SWT. Persoalannya adalah saat penantian kelahiran anak, tak kunjung datang. Tidak jarang hal ini harus menjadi kiamat kecil, atau akhir sebuah ikatan pernikahan.
Beruntunglah saya dapat membaca skenario Test Pack yang ditulis Adhitya Mulya, penulis novel best seller Jomblo, suami dari Ninit Yunita penulis novel favorit saya berjudul Test Pack. Membaca skenario ini, membuat saya tergerak untuk mengangkatnya jadi film, karena ‘penting’. Sekali lagi saya membaca novelnya, dan segera mendiskusikan desain produknya dengan Adhitya, Ninit dan Monty. Prosesnya relatif smooth, berangkat dari kesadaran yang sama bahwa film Test Pack ini perlu ada. Film yang diharapkan bisa menjadi perenungan sehat bagi remaja yang sedang jatuh cinta dan nantinya akan menikah, bagi pasangan suami istri, dan tentunya bagi keluarga. Inilah film yang Starvision angkat dari novel best seller untuk kesekian kalinya, melengkapi karya sinematografi dengan ceritera yang berbeda dan punya pesan jelas.
Saya mengenal Monty Tiwa dengan karyanya, terutama kepekaannya dalam mengangkat drama dengan ‘kelakar’ yang pintar. Monty membuat kita terhibur sedalam apapun persoalan yang ada. Tapi melalui Test Pack – you’re my Baby pencapaian Monty Tiwa ‘luar biasa’. Film ini menjadi begitu dekat dan ‘personal’, sehingga kita segenap tim produksi, penulis, pemain, editor, dan semua yang terlibat merasa Test Pack – you’re my Baby adalah ‘bayi’ kita. Film untuk keluarga ini beredar di bioskop setanah air mulai 6 September 2012, jangan lewatkan!
Writer’s note
Test Pack saya tulis pada tahun 2005. Ketika itu saya masih menetap di Abidjan – Cote d’Ivoire, Afrika Barat. Sebagai pasangan yang belum lama menikah, kami sering mendapatkan pertanyaan ini, “Kapan punya anak?”
Pertanyaan ini mungkin sering dilontarkan kepada siapa pun yang baru menikah tapi lama-lama mulai ‘mengganggu’ apalagi memasuki tahun ke dua pernikahan, kami belum mempunyai anak. Saya lalu berpikir what-if? Bagaimana jika dalam pernikahan kami tidak dikaruniai anak? Akhirnya pertanyaan ini menjadi sebuah bohlam yang bersinar terang di atas kepala dan menjadi ide untuk menulis Test Pack.
Lalu tercipta lah tokoh Rahmat dan Tata (Akang dan Neng) yang selama tujuh tahun menikah belum dikaruniai anak. Mereka pasangan muda dengan kehidupan urban. Dimana Rahmat yang humoris terlihat tenang dan santai, berbeda dengan Tata yang sangat menginginkan kehadiran anak. Bagi Rahmat, apa pun yang terjadi, kehidupan yang dia inginkan sudah lengkap karena menikah dengan Tata. Sementara bagi Tata, kehadiran anak akan membuat pernikahannya dengan Rahmat lebih bahagia. Karena itu lah Tata mulai mengoleksi Test Pack. Tata mulai mengalami kecemasan bagaimana jika dia yang ternyata tidak bisa mengandung dan melahirkan anak.
Seringkali kita mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin. Will you still love them, then? Pertanyaan ini lalu saya jawab melalui Rahmat dan Tata dalam novel Test Pack.
Saat menulis Test Pack, saya selalu membayangkannya menjadi sebuah film karena bagi saya hal tersebut sangat memudahkan proses menulis. Ternyata, sama seperti Rahmat dan Tata yang sudah tujuh tahun menunggu kehadiran anak, saya pun menunggu tujuh tahun sampai akhirnya novel Test Pack ini diangkat ke layar lebar.
Saya lalu bertemu dengan Monty Tiwa. Kami berdiskusi mengenai Test Pack dan membuat saya yakin bahwa Monty adalah sutradara yang mengerti bagaimana membawa Test Pack menjadi ‘hidup’ ke layar lebar. Penulisan skenario, saya percayakan kepada Adhitya Mulya, suami saya sendiri yang sudah ada pengalaman dalam menulis skenario film.
Saya mengerti bahwa ketika sebuah novel diangkat ke layar lebar, banyak pihak yang terlibat. Saya sendiri sebagai penulis novel sangat mempercayai penulis skenario yang merombak novel saya dalam bahasa film. Beberapa bagian diganti dan ditambah, tidak sama persis dengan novelnya. Bagi saya ini sangat wajar karena novel dan film adalah dua hal yang berbeda.
Dalam pemilihan pemain, saya mempercayakan sepenuhnya kepada sutradara dan produser. Karena bagi saya produser dan sutradara lah yang paling mengerti industri ini. Meski demikian, Pak Parwez dan Monty selalu mengajak saya berdiskusi dalam pemilihan para pemain yang terlibat di film Test Pack.
Beberapa kali saya datang ke lokasi untuk melihat proses shooting. Ketika Monty memperlihatkan beberapa scene, tanpa bisa dikendalikan air mata saya menetes, haru. Melihat apa yang saya tulis dalam novel menjadi hidup dengan demikian indah rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Para pemain, sutradara, dan crew film telah bekerja dengan sangat luar biasa untuk menghidupkan Test Pack dalam wujudnya yang lain, sebuah film.
Sebagai penulis, Test Pack sangat dekat dengan kehidupan saya karena selama dua tahun saya sering mendapat pertanyaan kapan-punya-anak. Setelah ‘melahirkan’ novel Test Pack dan melihatnya tumbuh dalam wujud film, saya merasa sangat bahagia dan puas dengan hasilnya. Positif!
Synopsis
Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) pasangan suami istri kelas menengah. Rahmat seorang psikolog dan Tata bekerja di perusahaan periklanan. Mereka sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai anak. Rahmat dan Tata sudah mencoba segala tips dan trik yang mungkin ada dari yang paling ilmiah sekali pun sampai yang tidak. Mereka memerhatikan asupan gizi yang mereka konsumsi, sistem kalender kesuburan, jamu, posisi bercinta dan sebagainya. Secara personal keinginan Tata untuk memiliki anak, lebih besar dari Rahmat karena Rahmat beranggapan bahwa jika mereka berdua (to have each other), itu cukup bagi Rahmat. Namun Tata merasa kehadiran seorang anak adalah wajib. Tata sampai di sebuah titik mereka harus pergi ke dokter kandungan. Rahmat setuju meski pun Rahmat merasa, dengan pergi ke dokter, mereka resmi mengakui bahwa mereka sulit memiliki anak.
Shinta (Renata Kusmanto) adalah seorang super model Indonesia yang mendunia. Reputasi, citra dan profesionalismenya sangat baik dan tinggi. Tidak banyak yang tahu bahwa Shinta baru bercerai dari suaminya, Heru (Dwi Sasono) karena Shinta didiagnosa tidak dapat memberikan anak. Patah hati dan kesepian, Shinta berusaha memendamnya dengan kesibukan modeling dan nesting rumah baru. Di saat yang sama dia teringat akan mantan pacar terdahulu yang Shinta pernah tinggalkan, Rahmat.
Rahmat dan Tata berobat ke dokter Peni (Oon Project Pop), dan mereka mulai melakukan proses invitro. Tata mulai tidak stabil akibat hormon yang disuntik untuk kesuburan. Tapi obsesi Tata akan anak tetap membuatnya tegar. Tata bahkan menolak tawaran pekerjaan ke luar negeri demi proses memiliki anak ini. Di saat yang sama, Shinta bertemu dengan Rahmat karena mereka pergi ke klinik yang sama. Rahmat menyembunyikan pertemuan ini dari Tata karena tidak ingin Tata semakin tidak stabil emosinya. Invitro pertama gagal dan mereka akan memulai invitro kedua. Dr Peni baru menyadari bahwa ada satu step prosedur invitro yang tidak sengaja terlewatkan, yaitu tes kesuburan sperma Rahmat, dan mendapati hasilnya bahwa Rahmat mandul.
Rahmat menyembunyikan hasil tes ini dari Tata. Rahmat, yang hatinya hancur tidak dapat membahagiakan istri, bingung mencari teman yang dapat berbagi rahasia ini. Shinta adalah orang senasib dengan Rahmat. Rahmat curhat pada Shinta. Tata menemukan rahasia kemandulan Rahmat. Meski marah, Tata masih bingung bagaimana dia harus bersikap. Tata mulai marah tidak terkendali ketika mengetahui bahwa Rahmat menghabiskan waktunya bersama Shinta. Rahmat menyatakan bahwa kekurangan dirinya tidak mungkin dapat Tata rasakan. Tata memutuskan untuk bercerai. Tata memutuskan untuk mengambil job offer di luar negeri.
Shinta melihat Rahmat yang hancur, berusaha masuk ke dalam kehidupan Rahmat. Shinta berusaha meyakinkan Rahmat bahwa mereka pasangan yang cocok karena memiliki nasib yang sama. Rahmat yang pelan-pelan mulai masuk ke dalam hidup Shinta, sebenarnya masih bimbang antara menerima takdirnya sebagai pria mandul dengan pasrah atau mengejar Tata.
Rahmat akhirnya memutuskan untuk mengejar Tata. Dari kolega Tata, Rahmat tahu bahwa Tata sedang dalam perjalanan ke airport. Rahmat mengejar Tata sampai airport dan menemukan bahwa pesawat Tata telah pergi. Hati Rahmat remuk. Apakah Rahmat bisa menjadi seseorang yang sempurna untuk Tata? Atau Shinta?