Cloud Atlas Feature

Cloud Atlas merupakan sebuah film panjang berdurasi tiga jam berdasarkan novel karya David Mitchell berjudul sama yang terbit pada tahun 2004.

Semuanya berkaitan: sebuah buku harian pelayaran menyeberangi Pasifik pada tahun 1849; surat-surat seorang komposer untuk temannya; kisah thriller mengenai pembunuhan di sebuah pangkalan reaktor nuklir; cerita absurd mengenai seorang penerbit di sebuah panti jompo; seorang hasil kloning yang pemberontak di Korea masa depan; serta kisah mengenai sebuah suku yang tinggal di Hawaii setelah kiamat berlalu, jauh di masa mendatang.

Para pemeran dan ketiga sutradaranya meluangkan waktu untuk duduk-duduk santai bersama Cinemags baru-baru ini di hotel Beverly Hilton.

“I want to believe that our soul and our spirit evolves. I just want to believe that.” – Halle Berry


Patricia Danaher (PD): Cloud Atlas merupakan sebuah film yang rumit dan ambisius. Dapatkah Anda merangkumkan arti dari film ini bagi Anda?

Halle Berry (HB): That’s very hard to do, tapi menurut saya film ini adalah tentang sebuah kepercayaan bagaimana kita semua saling terkait sejak berada dalam kandungan sampai pada makam kita nanti. Kita semua saling berhubungan satu sama lain, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan, baik itu kebaikan maupun kejahatan menggema sampai bertahun-tahun dan bergenerasi-bergenerasi. Saya rasa film ini juga menyajikan keyakinan akan adanya reinkarnasi dan arti yang lebih dalam bagi alasan keberadaan masing-masing kita sebagai seorang individu.

PD: Apakah Anda percaya pada takdir atau reinkarnasi?

HB: Walau terasa aneh, saya memang merasa terhubung dengan orang-orang dalam kehidupan saya dan jika dengan alasan apapun, beberapa orang tidak datang dalam kehidupan saya, tentu semuanya akan menjadi sangat berbeda. If my manager hadn’t come into my life, I doubt I’d be sitting here today. Ada beberapa orang yang telah mengubah jalur kehidupan saya dan saya merasa bahwa kami selalu terhubung seakan-akan saya sudah mengarungi seluruh perjalanan hidup saya. Roh saya seperti sudah mengetahuinya, atau jiwa kami seperti telah terhubung sejak awal. Sejak pertama kali bertemu manajer saya, yang kini telah bekerja bersama selama 25 tahun, saya selalu tahu bahwa saya akan menjalani hidup dengan orang ini; seperti yang Anda ketahui ketika melihat ayah sendiri saja.

PD: Anda dapat bertanya kepada tiga orang sutradara dan seorang novelis di lokasi syuting Cloud Atlas. Bisakah Anda ceritakan tentang kolaborasi tersebut?

HB: We affectionately called them Mom and Dad and Tom Tykwer. Saat Tom Hanks dan saya ikut terlibat, Ayah, Ibu, dan Tom telah menghabiskan banyak waktu bersama sang penulis, David Mitchell, sampai mereka telah benar-benar menguasai novel tersebut dan akhirnya melahirkan sebuah blueprint berwujud skenario kami. Dalam beberapa hal, versi film sangat mirip dengan bukunya, tetapi di lain sisi, film ini berperan sebagai semacam titik pemberangkatan dari buku ke dalam sebuah cinematic experience. David sangat berpengaruh dalam kerja samanya dengan Lana, Andy, dan Tom, tetapi bagi saya, hasil kerja tersebut sudah tertuang dalam halaman-halaman skenario. Ia datang ke lokasi kadang-kadang, and he was like a kid in a candy store watching the artists bringing his work to life dan ia selalu tampak terkesan dengan prosesnya, yang ia nikmati sambil duduk seperti penonton.

PD: Menurut Anda, apa yang akan terjadi setelah kita meninggal?

HB: Saya selalu sulit percaya bahwa ketika kita meninggalkan dunia ini, kita akan berubah menjadi debu dan berada dalam ketiadaan. Saya perlu meyakini sesuatu, terlepas itu benar ataupun tidak. Saya memerlukan kepercayaan bahwa kita terus dan terus menjalani hidup yang tiada akhir. Saya mulai meyakini hal itu pada masa SMA, ketika saya mulai mempertanyakan arti kehidupan. I want to believe that our soul and our spirit evolves. I just want to believe that.

“With six roles and something as ephemeral as a cloud and as specific as an atlas, I found this a very freeing process.” – Tom Hanks


PD: Bagaimanakah pendapat Anda tentang reinkarnasi?

Tom Hanks (TH): Saya tidak begitu yakin dengan kehidupan setelah kematian, tetapi saya setuju bahwa hidup ini hanyalah sebuah gerbang yang akan kita lewati untuk menuju ke tempat lain, di mana akan ada suatu gerbang pula di sisi lain dari pengalaman tersebut yang juga akan membawa kita ke tempat lain. Now, if that is a definition of reincarnation, take it and run! I am not so sure.

PD: Film ini berkisah melalui enam tahap kehidupan berbeda dan Anda memainkan enam peran yang berbeda-beda. Bisa ceritakan bagaimana kesan Anda terhadap pengalaman tersebut?

TH: Segera setelah saya bertemu ketiga sutradaranya, Tom, Lana, dan Andy, saya sadar bahwa saya harus melepaskan sebuah proses yang biasa; bahwa saya harus percaya pada fakta bahwa saya harus menjadi masing-masing dari enam peran berbeda ini. It’s not the type of thing you can go back and map out specifically on your own. Saya harus mempercayakan diri saya kepada bagian hair and make-up, kostum dan mendengarkan nasihat serta keputusan-keputusan mereka dan kemudian melakukannya. Saya harus belajar untuk tidak berkata ‘tidak’ dan terkadang dalam film, itulah satu-satunya garis pertahanan yang Anda miliki sebagai seorang aktor. With six roles and something as ephemeral as a cloud and as specific as an atlas, I found this a very freeing process.

PD: Menurut Anda, apakah tema dari Cloud Atlas sendiri?

TH: Saya tidak merasa film ini mengubah saya, tetapi film ini membuat saya belajar. Terus terang menurut saya apa yang karakter Doona Bae, Sonmi ucapkan di akhir film perlu diukir di batu, tugu-tugu dan diajarkan di kelas-kelas. Bahwa kita semua saling terhubung dan keputusan-keputusan yang kita buat, apakah itu baik atau jahat, akan berpengaruh selama bergenerasi-generasi. Sekarang juga kita mempunyai kekuatan untuk mengikuti atau menciptakan sesuatu yang akan mempengaruhi seluruh dunia untuk selamanya. Rasanya tidak sulit untuk menyadari bahwa itulah kebenarannya. Mozart changed the world. John Steinbeck changed the world. The Beatles changed the world. We are all connected no matter who we are, what colour we are, what era we live in.

“As I’ve grown, I’ve learned that living an authentic life is the most important thing, so however you evolve, that is your choice.” – Susan Sarandon


PD: Apakah tema-tema utama dan terpenting dari film ini bagi Anda?

Susan Sarandon (SS): Hal-hal yang datang dalam hidup Anda; putra-putri Anda, proyek-proyek yang Anda kerjakan, kekasih Anda yang terkadang membawa hal-hal yang tidak Anda ketahui, namun setelah ditelusuri ternyata hal itu membawa arti yang cukup spesial bagi Anda. That’s why the job I have is so fantastic, because it constantly increases the number of instances for these kind of collisions. Saya percaya bahwa Anda sebaiknya waspada karena segala yang Anda lakukan dapat mempengaruhi masa depan yang Anda sebabkan, seperti apa yang karakter saya katakan. Sangat disayangkan bahwa kita sudah dibiasakan untuk hidup demi imbalan atau hukuman yang didapat di masa depan. Anda pergi ke sekolah, berharap untuk lulus dan kemudian pindah ke sekolah yang lebih tinggi. Anda bekerja sambil menantikan hari libur, menunggu kenaikan pangkat. Anda menjalani pernikahan Anda, menantikan perasaan keamanan dan kemapanan. Anda tidak fokus pada proses yang sedang berlangsung serta hal-hal yang dapat Anda peroleh di saat ini. Saya rasa film ini menyarankan kita untuk berbuat baik, karena dengan setiap kejahatan dan tindak kriminal yang kita lakukan, kita akan menanggung karma dan harus bertanggung jawab terhadap akibat dari hal tersebut.

PD: Anda dibesarkan sebagai seorang Katolik. Bagaimana Anda membesarkan anak-anak Anda sejauh ini?

SS: Tanpa disengaja, saya mengajarkan mereka untuk dapat beradaptasi dan ternyata hal yang awalnya saya pandang remeh tersebut benar-benar berbuah hasil. Saya memberikan mereka pandangan yang luas terhadap dunia dan kini mereka telah banyak bepergian dan telah melihat banyak hal. Mereka tidak takut terhadap negara-negara berbeda dan orang-orang dari berbagai bangsa. Mereka tidak mudah goyah oleh kecemasan yang tengah berkembang di Amerika. As I’ve grown, I’ve learned that living an authentic life is the most important thing, so however you evolve, that is your choice.

PD: Bagaimanakah Anda mendeskripsikan kehidupan spiritual Anda sekarang ini?

SS: Saya punya keyakinan spiritual, tetapi bukan yang relijius. Saya agak anti terhadap agama yang mempunyai lembaga-lembaga, karena saya rasa sebagian besarnya mulai berubah ke arah yang tidak baik. Setiap agama mempunyai inti baik yang kemudian berkembang menjadi buruk dan tak jarang yang digunakan untuk kejahatan. Saya mempelajari berbagai agama dan menurut saya semuanya luar biasa menarik karena memiliki ajaran sederhana yang serupa sebagai intinya. Mereka ‘mendandaninya’ dengan berbagai cara dan ajaran berbeda, tetapi saya rasa mereka mulai berkembang ke arah negatif ketika eksklusifitas mulai muncul. But I don’t think they start out that way. I think the simplest way to live is a spiritual way.

“And then some teeny-weeny itty-bitty miracle would happen.” - Lana Wachowski



PD: Tiga orang sutradara mengerjakan sebuah film berbujet $100 juta: seberapa sulitnya untuk mencapai sebuah harmoni dalam proyek ini?

Tom Twyker: Lucunya, rasanya kita semua sependapat bahwa sesulit-sulitnya kreasi film ini, tidak melampaui betapa menyenangkannya proses yang kita nikmati. Membuat film ini merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa menyenangkan. It’s impossible to describe how much fun we had. Sungguh suatu pengalaman yang berlimpah kegembiraan melawan seluruh hambatan dalam mewujudkan sebuah film yang mustahil dibiayai.

Lana Wachowski: Tentunya pendanaan menjadi bagian tersulit. Sukacitanya memang tak tergambarkan, tetapi ada pula tragedi dan hambatan-hambatan yang terus menghadang sampai pada titik di mana sepertinya mustahil untuk meneruskan proyek film ini. And then some teeny-weeny itty-bitty miracle would happen.

Andy Wachowski: Kami begitu tersentak dan sungguh mencintai bukunya, sehingga kami merasa harus setia kepada versi asli bahkan ketika berbagai halangan menghambat kami. But if we are a reincarnation of all our choices, then we managed to do something we were always meant to do.
 


Other Interviews...


Cine Toys
Iron Man3 1
Iron Patriot Limited Edition Collectible Figurine

Iron Man3 2
Iron Man 3: 1/4th scale Mark VII Collectible Bust
Iron Man3 3
Tony Stark (Armor Testing Version) Collectible Figure
G.I.Joe: Retaliation
1/6 scale Storm Shadow 12" Ltd Edition Collectible Figure

Other Cine Toys...
Cine DVD
Blu-ray
Paket Blu-ray-nya sendiri (di samping kemasan luar dan gimmick), identik dengan paket The Godfa...
DVD
The Epic Finale That Will Live Forever...

Other Cine DVD...