Beberapa waktu lalu Animonstar mendapat kesempatan untuk meliput kegiatan gathering sebuah grup di jejaring sosial Facebook, Dubber and Fans. Acara gathering ini digelar pada 17-18 Desember 2011 di Studio Aldino Pro Saiki, Jakarta Timur dengan dihadiri para anggota Dubber and Fans yang jumlahnya puluhan orang. Berikut ini adalah wawancara Animonstar dengan beberapa orang dubber yang hadir dalam gathering tersebut, yaitu Kak Agus Nurhasan, Kak Muchus, Kak Elly Kusumah, Kak Bima Sakti, Kak Hana Bahagiana dan Kak Merysha Chandra.
.jpg)
Sudah berapa lama kakak mendalami dunia dubbing?
Agus: Sejak tahun 1993, berarti sudah 18 tahun.
Muchus: Sejak masuk Sanggar Prativi, tahun 1987 dengan peran di sandiwara radio Misteri Nini Pelet.
Elly: Sejak tahun 1973 di film layar lebar.
Bima: Di tahun 1995 saya sudah mulai dubbing namun tahun 1997 sempat vakum. Tahun 2003 barulah saya fulltime men-dubbing lagi.
Hana: Sejak tahun 1995, tapi sempet break beberapa tahun, tapi jatuhnya lebih sering mengisi untuk animasi. Mulanya di telenovela, tapi sebelumnya aku sering mengisi bagian crowded di film India.
Merysha: Baru sekitar 5 tahun, sejak 2007.
Apa yang membuat kakak tertarik menjadi dubber?
Agus: Awalnya dari sandiwara radio yang saya dengar waktu SD. Kok dahsyat sekali ya, dengan suara saja bisa menggiring saya untuk menikmati ceritanya. Kok bagus banget, pikir saya.
Merysha: Pertama suka. Suka banget ama film kartun.
Bagaimana mulanya kakak terjun ke dunia dubbing?
Agus: Saya belajar sendiri di rumah, mencoba-coba sendiri sebisa saya, dan akhirnya setelah lulus SMA saya pergi ke Jakarta, ke Sanggar Prativi yang memproduksi sandiwara radio itu. Setelah diterima bergabung disana, saya akhirnya bertemu dengan orang-orang yang dulu hanya saya dengar suaranya. Disana saya mendapat pelatihan singkat dan sisanya saya belajar dengan mengamati. Peran pertama saya adalah peran-peran minor di Satria Baja Hitam [Kamen Rider Black], kemudian mulai mendapat peran utama dalam Pasukan Turbo.
Muchus: Saya mulanya bergabung dengan teater di TIM, kemudian dibawa oleh teman masuk ke Sanggar Prativi. Disana ada pelajaran yang disebut talent scouting yang berlangsung selama 3 bulan. Dubbing anime Jepang pertama saya Dash Yonkuro, dimana saya memerankan ayah Genkuro.
Elly: Saya awalnya dari sandiwara radio, dulu di RRI. Jadi sejak tahun 1972 sudah suka main sandiwara, lalu di Sanggar Prativi dapat ilmu macam-macam
Bima: Terjunnya saya ke dunia dubbing bisa dibilang sengaja-tak disengaja. Mulanya ada teman kakak yang nawarin untuk ke suatu studio, waktu itu sekitar akhir tahun 1994 Arvisco Pondok Pinang sedang membuka lowongan sebagai pengisi suara.
Hana: Mulanya tidak sengaja mengantar teman ikut casting, --dan akhirnya kecemplung juga, mulai dari telenovela dan mengisi di animasi Sonic. Kebetulan saya juga ikut teater.
Merysha: Aku punya Om dan Omku punya teman, seorang dubber. Akhirnya aku diajak ke studio dan melihat proses dubbing sendiri bikin aku tertarik. Oh, gini ternyata caranya untuk bisa bikin satu karakter di film. Setelah coba-coba terjun, lama-lama jadi suka.
Bagaimana caranya agar bisa menciptakan suara yang bermacam-macam untuk karakter yang berbeda-beda?
Agus: Mencoba-coba sendiri aja di rumah. Bisa juga kita belajar dari teman dubber yang lain. Saya dulu awalnya tidak bisa bersuara seperti orang tua.
Muchus: Fokus dengan olah vokal. Saya sendiri spesialis tokoh-tokoh antagonis.
Bima: Saya dapat masukan dari teman saya bahwa dubber itu tidak harus suaranya cantik, tidak harus suaranya ganteng. Walaupun suaranya cempreng, walaupun suaranya ngaleng, tapi kalau dia bisa memainkan karakter, suaranya akan jadi indah. Seorang dubber harus cerdas dan fleksibel dalam mengisi suara. Kalau peran yang dia kuasai hanya satu, dia akan tergerus sama teman-teman yang lain. Seorang dubber harus berani untuk mengekslplor warna suaranya hingga bisa menjadi beberapa karakter.
Hana: Untuk membedakan, aku sering mencari-cari warna suara. Latihan olah vokal setiap pagi, juga mencari warna suara yang aneh-aneh,--karena suaraku nggak indah [tertawa].
Merysha: Mengalir dengan sendirinya, kita belajar. Pertama-tama kenali dulu suara kita lalu pilih karakter yang mendekati suara kita. Nah setelah lolos casting, disitulah proses belajar untuk mengolah suara dan karakter dimulai.
Apa peran yang yang paling berkesan bagi kakak?
Agus: Suneo. Seneng saya [sama karakter itu], tengil, ngeselin tapi ngangenin juga.
Muchus: Scrooge [Paman Gober] di Duck Tale. Selama ini saya selalu memainkan karakter jahat, kalaupun mendapatkan peran karakter baik, biasanya peran sebagai orang tua.
Elly: Ibu Nobita, karena saya harus marah-marah.
Bima: Kurita di Eyeshield 21. Itulah peran yang paling saya cintai. Saya suka karakternya, saya suka gayanya. Walaupun gendut, bulat, kayak bola, tapi dia kuat dia bisa mengalahkan teman-teman yang lebih kekar. Tapi dia juga merupakan karakter yang hatinya mudah tersentuh. Kenapa saya selalu mengisi suara untuk karakter yang gemuk-gemuk ya [tertawa].
Hana: Shinbe dari anime Nintama Rantaro. Lucu, suka makan dan agak lemot.
Merysha: Ninja Hattori, aku jadi Hattori dan Kagechiyo. Kalau peran favorit, semuanya favorit bagi aku. Karena dulu kupikir dubbing itu sekedar lipsync, tapi makin kesini aku menganggap dubbing itu bermain karakter. Semakin banyak karakter yang dikuasai, maka kita akan semakin profesional.
Kalau peran yang paling sulit dibawakan?
Agus: Karakter yang suaranya bikin tenggorokanku agak sakit. Tapi pada dasarnya semua peran punya tantangan tersendiri, semua peran berkesan.
Muchus: Yang paling membebani, kalau saya dapet peran karakter baik.
Elly: Peran remaja.
Bima: Giant. Karena karakter suara Giant yang dibawakan Pak Is Andespa [Alm.] begitu kuat. Berbeda dengan memerankan karakter lain, dimana saya harus menghidupkan si karakter, nah untuk Giant ini saya harus bisa menyesuaikan suara saya dengan suara Pak Is. Makanya saya survei dan mencari film-film doraemon lama yang sudah di dub. Selama 3 hari 3 malam saya memelajari karakter suara Pak Is, walaupun tidak maksimal tapi warna suara saya alhamdulillah bisa mendekati pak Is.
Hana: Selama ini paling sulit adalah peran-peran yang suaranya terlalu kecil. Peran-peranku sendiri kebanyakan suara cowok, anak-anak kecil, dan jagoan-jagoan, kadang-kadang karakter antagonis seperti Kimimaki di Ninja Hattori. Karena terbiasa mengisi di anime, aku kadang minder kalau diajak mengisi telenovela, apalagi kalau yang diisi adalah karakter cewek cantik.
Merysha: Kalau dibilang sulit, semuanya sulit. Tapi kalau yang agak kurang bisa kuatasi itu karakter suara ibu-ibu. Jujur aku nggak ngerasa suaraku bagus, mau nggak mau aku harus belajar karakter. Suaraku belum cukup jadi aku harus bisa bermacam-macam karakter.
Apa saja suka-duka yang kakak alami selama menjadi dubber?
Agus: Kejar tayang sampai pagi, atau paling berduka itu kalau dapat naskah terjemahan yang jelek sementara saya nggak bisa bahasa asing. Jadinya kerja dua kali untuk memperbaikinya dan kalau honor turunnya lama banget [tertawa]. Kalau kejar tayang satu hari bisa take sekaligus untuk 10 episode. Tapi pada dasarnya seneng sih, karena saya menikmati.
Muchus: Dukanya ketika nggak dapet casting selama berbulan-bulan.
Elly: Sukanya banyak teman dan banyak penggemar, dukanya kalau ada peranan yang sulit, blank atau dialognya nggak pas. Makanya dubber itu harus berangkat dari pemain sandiwara, karena kita akan bisa membaca karakter. Kalau bukan dari teater, lipsync sih lipsync tapi nggak ada jiwanya, nggak ada emosinya.
Bima: Banyak sukanya, walaupun realitanya dubber pada saat ini harus berduka. Kenapa saya bilang harus berduka? Karena tidak seperti dulu. Kita justru sangat dirugikan karena kita tidak dikenal, kan. Karena suara kita tidak terlalu dikenal, --tidak seperti artis, jadi dari nilai materi atau hasil yang kita dapatkan sangat minim. Kalau dulu pendapatan kita sama seperti artis. Dubber-dubber ini dalam kondisi yang memprihatinkan.
Hana: Sukanya, jadi bisa mengeksplor suara jadi bermacam-macam suara. Dukanya, banyak, banyak! [tertawa] Pulang malam sudah pasti, pulang pagi juga pernah. Dari proses dubbing-nya sendiri misalnya, sudah diburu-buru datang, sampai studio “eh naskahnya belum jadi, tunggu dulu ya...” [tertawa], seperti itu juga pernah.
Merysha: Banyakan sukanya sebenarnya, yang jelas aku sudah bisa bayar kuliah sendiri, terus aku bisa bayar motor sendiri, semuanya nggak minta orangtua lagi. Kalau dukanya, kadang ada rasa nggak enak saat menolak casting, atau banyak kendala yang tercipta karena lingkungan. Misalnya saat jadwal dubbing sedang padat, salah satu studio menjalankan take secara rolling, alias take beramai-ramai. Biasanya kalau take secara rolling kita nggak bisa prediksi kapan selesainya. Jadi, kalau satu jadwal berantakan jadwal lainnya juga berantakan; mengecewakan klien.
Apa harapan kakak di masa mendatang?
Agus: Semoga semakin mencintai film-film yang di dubbing, tapi tetap beri masukan pada kami.
Muchus: Mudah-mudahan pihak penyedia film bisa mengerti dan menghargai, bahwa kita sebagai pekerja memberikan yang terbaik bagi mereka dan hargailah sedikit.
Bima: Ada range, ada harga dubbing yang jelas. Jadi, tidak sekedarnya, tidak berupa penghargaan yang ala kadarnya. Tapi dinilai dari potensi yang dimilikinya kemampuannya dalam mengolah suara. Mudah-mudahan ada perubahan nantinya ke depan, agar dunia dubbing bisa lebih baik lagi.
Hana: Semoga kami lebih diperhatikan lagi. Jadi, orang tidak hanya menutup mata dan cuma bisa mencaci maki.
Merisa: Secara pribadi aku dubbing itu adalah hobi, hobi yang menghasilkan. Aku dari dulu selalu berpikir nggak akan selamanya di dubbing, jadi aku harus punya pekerjaan tetap yang lain. Dan hobiku dubbing ini akan tetap dijalankan tapi menyesuaikan dengan pekerjaanku yang selanjutnya.
Simak liputan khusus Gathering Dubber and Fans ketiga hanya di Animonstar 155!
Dubber and Fans
http://www.facebook.com/groups/101935333208682/
"woow...para sepuh dubber :P"
"Ralat : Hana Bahagiana tidak mendubbing sejak tahun 1975 tapi 1995. "
"waaah thank you kak cynthiaaa ^^.. hihih yah ga ada pooto saya T__T *nangis di pojokan. hahaha"
"saya peribadi amat sangat ingin mengucapkan banyak terima kasih buat para dabber indonesia yg gak bisa saya sebutkan namanya satu-persatu \\\\\\\"ARIGATO GOZAIMASU\\\\\\\"... saya sangat terharu melihat mereka bertahun2 mengisi suara karakter2 kesayangan kita... sekali lagi terima kasih... maju terus para dubber indonesia ^^"
"Ini beberapa data peran dari mereka semua :
Agus Nurhasan Subhi
Peran :
Ksatria Baja Hitam : Monster
Saint Seiya (RCTI) : Aries Mu
Hikaru no Go : Fujiwara no Sai
Curious George : Pria Bertopi Kuning
Doraemon : Suneo Honekawa (2006-2008)
The Song of Tentomushi : Mizuo Iwakura
Gatchaman : Joe
Idol Densetsu Eriko : Manager Ijuin
Eureka Seven : Letnan Dewey
Basiliks
Thristy Heart
DNAngel : Dark
Surat Kecil untuk Tuhan
Macho 4
White Chick
Muchus
Peran :
Misteri Nini Pelet : Ki Buyut Manguntapa
Tintin (SCTV) : Kapten Haddock
Duck Tales : Scrooge McDuck
Dash Yonkuro (TVRI) : Genkuro
Elly Kusumah
Peran :
Doraemon : Tamako Nobi/Ibu Nobita (1990-2006 & 2008-2009)
Duck Tales : Bu Beakley
Sticth : Nenek Yuna
Misteri Nini Pelet : Narator
Bima Sakti
Peran :
Doraemon : Takeshi \"Giant\" Goda (2009-)
Eye Shield 21 : Kurita
Naruto : Choji Akimichi
Naruto : Hokage 3
Basiliks
Hana Bahagiana Permata
Peran :
One Piece : Monkey D Luffy
Naruto : Naruto Uzumaki
Konjiki no Gash Bell : Gash Bell
Honey Bee Hutch : Hatchi
Kapten Tsubasa : Hyuga Kojiro
Digimon Tamers : Takato Matsuda
Digimon Frontiers : Takuya Kanbara
Woody Woodpecker : Woody Woodpecker
Adventure of Sonic the Hedgehog : Scratch
Ninja Hattori : Kemuzo Kimimaki
Ninja Boy (TPI) : Shinbe
Duck Tales : Huwey, Dewey, & Louwey.
Fearless
Winx Club
Metal Fight Beyblade the Movie : Ginga Hagane
Merysha Chandra
Doraemon : Shizuka Minamoto (2009-)
Inazuma Eleven
Ninja Hattori (Space Toon) : Kenzo Hattori
Ninja Hattori (Space Toon) : Kagechiyo
XX BOM Fighter
Harry Potter
Eye Shield 21
Cruel Temptation : Bibi Haneul
Cruel Temptation : Ibu Min
George of the Jungle 2
Hamtaro (Indosiar) : Laura"



